This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Analisis. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Analisis. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2012

ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN “PERCAYAI AKU BUNDAKU” KARYA “LAILATUL MUNAWAROH”


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Cerpen sebagai karya fiksi dibangun oleh unsur-unsur pembangun di dalamnya, yaitu oleh unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Cerpen memiliki unsur peristiwa, alur, tema, tokoh, sudut pandang dan lain-lain. Karena bentuknya pendek, cerpen yang menurut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detil-detil khusus yang lebih bersifat memperpanjang cerita. Cerpen sebagai karya sastra prosa memiliki unsur-unsur dalam (intrinsik) yang membangunnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah unsur-unsur tersebut membentuk kesatuan yang utuh. Dalam hal ini, satu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya.
Agar dapat lebih memahami unsur-unsur dalam cerpen dan untuk memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen yang berjudul “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh, saya membuat analisis unsur intrinsik cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh.

B.     Identifikasi Masalah
Dalam cerpen terdapat 2 unsur pembangun yaitu: unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam cerpaen meliputi:
-          Tema adalah keseluruhan isi cerita yang tersirat dalam cerpen.
-          Alur atau jalan cerita merupakan bagian dari rangkaian perjalanan cerita. Alur terbagi menjadi 3 macam. Yaitu: alur maju, alur mundur dan alur maju mundur (gabungan)
-          Tokoh dan penokohan. Tokoh yaitu pelaku dalam cerita. Sedangkan penokohan merupakan watak atau sifat tokoh, penokohan/ perwatakan ada 3 macam yaitu Antagonis (tokoh jahat), Protagonis (tokoh baik) dan Tritagonis (tokoh penengah).
-          Latar merupakan suasana, tempat, dan waktu terjadinya peristiwa dalam cerpen. Latar terbagi menjadi 3 macam yaitu latar tempat, latar waktu dan latar suasana.
-          Sudut pandang terbagi menjadi 2 macam yaitu orang utama (tokoh utama dan tokoh pendamping) dan orang ketiga.
-          Gaya bahasa.
-          Amanat/ pesan yang tersirat dalam cerpen.

C.     Batasan Masalah
Karena keterbatasan pemikiran dan biaya, saya akan menganalisis 3 unsur cerpen yaitu tokoh dan penokohan/ latar dan amanat.
D.    Rumusan Masalah
Masalah yang akan dirumuskan dalam karya ilmiyah ini meliputi:
-          Siapa saja tokoh yang ada dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh?
-          Di mana, kapan dan bagainama suasana cerita dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh itu terjadi?
-          Apa amanat cerita yang terkandung dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh tersebut?
-          Bagaimana perwatakan dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh?

E.     Tujuan Pembahasan
Analisis unsur intrinsik cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh bertujuan untuk mendiskripsikan tokoh, latar, dan amanat yang tersirat dalam cerpen tersebut.

F.      Kajian Masalah
Unsur Intrinsik cerpen adalah unsur yang membangun cerpen dari dalam yang meliputi : Tema, tokoh dan penokohan, latar, amanat, sudut pandang, alur dan gaya bahasa.
Menurut Dendy Sugono (2002 : 24) tokoh adalah pelaku yang terdapat dalam cerita, sedangkan penokohan adalah watak atau sifat yang dimiliki oleh sipelaku (Tokoh) dalam cerita tersebut.
Menurut fananie Zainuddin (2001: 21) latar adalah bagian dari Unsur Intrinsik cerpen yang menunjukkan suasana, tempat dan waktu terjadinya peristiwa dalam cerpen. Latar ada 3 macam : Latar tempat (berhubungan dengan tempat peristiwa dalam cerpen tersebut berlangsung, latar waktu (berhubungan dengan waktu dimana peristiwa dalam cerpen tersebut berlangsung). Latar suasana (berhubungan dengan suasana saat kejadian tersebut).
Menurut Andy Santoso (1999 : 25) amanat merupakan pesan yang tersirat/hal yang dapat di ambil dan direnungi dari persitiwa dalam cerpen tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tokoh dan penokohan
No.
Tokoh
Penokohan
Bukti Pendukung
1.

2.






3.
Laila

Isnul






Bunda
Pemborosan

Penolong


Perhatian



Perhatian
-          Bunda payah nul ! Tidak mau memberikan uang saku bulanan
-          Aku lupa minta ongkos pada bunda, Laila kebingungan
Ya Sudah, Pakai Uangku saja, Isnul memutuskan.
-          Coba Kamu sisihkan sebagian uangmu setiap hari. Tunjukkan pada bunda bahwa kamu bisa mengatur uang saku. Mudah-mudahan bundamu akan berubah pikiran tentang kamu.
-          Tak Perlu menyesal, tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan sayang... suara merdu berbisik terdengar ditelinga Laila.

B.     Latar
No.
Jenis Latar
Latar
Bukti Pendukung
1.

2.
3.


Tempat

Waktu
Suasana
Bus Kota

Pagi hari
Gelisah
-       Saat Laila dan isnul di bus kota, akan berangkat kesekolah di pagi hari.
-       Akan berangkat ke sekolah di pagi hari
-       Astaga ! Laila menepuk dahinya.
Kenapa Laila ? Isnul Heran
Aku lupa minta ongkos pada bunda, Laila kebingungan.

C.     Amanat
No.
Amanat
Bukti Pendukung
1
Janganlah jadi orang yang pemboros
Mmm, aku memang pernah melakukan kesalahan dulu bunda, selalu memberiku uang saku untuk seminggu. Tapi baru hari ke empat uang itu sudah habis sejak itu bunda memberiku uang saku harian.

D.    Batasan Masalah
Karena keterbatasan pemikiran dan biaya, saya hanya akan menganalisis 3 unsur cerpen yaitu tokoh dan penokohan, latar dan amanat.

E.     Rumusan Masalah
Masalah yang akan dirumuskan dalam karya ilmiah ini meliputi :
-          Siapa saja tokoh yang ada dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul munawaroh ?
-          Dimana, kapan dan suasana cerita dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul munawaroh itu terjadi ?
-          Apa amanat cerita yang terkandung dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul  munawaroh tersebut ?
-          Bagaimana perwatakan dalam cerita tersebut ?

F.      Tujuan pembahasan
Analisis unsur intrinsik cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul munawaroh bertujuan untuk mendiskripsikan tokoh latar dan amanat yang tersirat dalam cerita tersebut.

G.    Kajian masalah
Unsur intrinsik cerpen adalah unsur yang membangun cerpen dari dalam yang meliputi tema, tokoh dan penokohan, latar amanat, sudut pandang, alur dan gaya bahasa.
Menurut dendy sugono (2002 : 24) tokoh adalah pelaku yang terdapat dalam cerita, sedangkan penokohan adalah watak atau sifat yang dimiliki oleh sipelaku (tokoh) dalam cerita tersebut.
Menurut fananie Zainudin (2001 : 21) Latar adalah bagian dari Unsur intrisnik cerpen yang menunjukkan suasana, tempat dan waktu terjadinya peristiwa dalam cerpen. Latar ada 3 macam : Latar tempat (berhubungan dengan tempat dimana peristiwa dalam cerpen tersebut berlangsung), Latar waktu (berhubungan dengan waktu dimana peristiwa dalam cerpen tersebut berlangsung), Latar Suasana (berhubungan dengan suasana saat kejadian tersebut).
Menurut andy Santoso (1999 : 25) amanat merupakan pesan yang tersirat/ha yang dapat diambil dan direnungi dari persitiwa dalam cerpen tersebut.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1)      Tokoh Utama dari cerpen “Percayai Aku Bunda” karya Lailatul Munawaroh sangatlah beragam sikap-sikapnya. Terutama Laila dia adalah anak yang pemboros tidak mau menyisihkan uang saku hariannya. Adapun isnul yang mau menolong Laila saat kebingungan.
2)      Latar yang terjadi di dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” adalah di bus kota saat berangkat ke sekolah pagi hari.
3)      Amanat yang terkandung dalam cerpen “Percayai Aku Bunda” adalah janganlah jadi orang yang pemboros, dan dengarkan nasehat seorang ibu.

B.     Kritik dan Saran
Dari pembahasan di atas saya berharap agar pembaca dapat lebih memahami cerita dalam cerpen tersebut di atas karya Ilmiyah ini. Mungkin masih terdapat banyak kesalahan karena luput dari salah dan lupa, maka dari itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan analisis ini.



PERCAYAI AKU, BUNDA
Karya : Lailatul Munawaroh

Saat Laila dan Isnul di bus kota, akan berankat ke sekolah di pagi Hari Ketika Laila Bengong.
“Hampir sampai, nih!” Isnul menepuk bahu Laila yang dari tadi bengong.
Laila menoleh sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan kekagetannya.
Tapi…”
Astaga!” Laila menepuk dahinya.
“Kenapa, La?” Isnul heran.
“Aku lupa minta ongkos pada Bunda, “Laila kebingungan.
“Ya sudah, pakai uangku saja,” Isnul memutuskan.

Begini jadinya kalau terlambat bangun, batin Laila. Pergi terburu-buru, tanpa sarapan, dan yang paling parah, ya itu, lupa minta uang pada Bunda. Bunda juga lupa sepertinya. Padahal pergi dan pulang sekolah Laila harus naik bis kota. Belum lagi kalau lapar, harus jajan.
Tadi malam Laila memang susah tidur. Dia terus memikirkan sikap bundanya yang tidak percaya padanya. Bunda menganggap Laila pemboros, tak pandai mengatur uang, suka belanja, dan banyak lagi julukan lain yang Bunda berikan pada Laila. Yang membuat Laila paling kesal, Bunda memperlakukannya seperti anak kelas tiga SD. Uang saku diberikan setiap mau berangkat sekolah. Sebel banget! Batin Laila.

“Bunda payah, Nul ! Tidak mau memberiku uang saku bulanan. Padahal kan, repot, kalau kejadian seperti ini terjadi. Untung ada kamu. Kalau tidak, aku tidak tahu harus berbuat apa, “Laila melontarkan kekesalannya saat mereka turun dari bis kota. Isnul tersenyum.
“Masih untung kamu dapat uang saku harian. Coba kalau tidak dapat samasekali, kan lebih parah,” goda Isnul. “Eh, La! Mungkin bundamu punya pertimbangan lain,” sambung Isnul.
“Pertimbangan apa? Pertimbangan pelit?”
“Ya… siapa tahu kamu pernah melakukan kesalahan. Sehingga bundamu menganggap kamu pemboros. Coba ingat-ingat.”
“Mmm, aku memang dulu pernah melakukan kesalahan. Dulu Bunda selalu memberiku uang saku untuk seminggu. Tapi baru hari keempat uang itu selalu sudah habis. Sejak itu Bunda memberiku uang saku harian.”
“Nah, itu kamu tahu penyebabnya. Jadi memang ada alasannya, kan, bundamu tidak memberi uang bulanan.”
“Ya… tapi itu kan dulu, Nul! Masa’ sekarang Bunda masih belum bisa mempercayai aku.”
Isnul tersenyum. “Laila, kamu harus berusaha mengembalikan kepercayaan Bunda dengan melakukan sesuatu.”
Laila mengernyit, “Melakukan apa?”
“Coba kamu sisihkan sebagian uang sakumu setiap hari. Tunjukkan pada Bunda bahwa kamu bisa mengatur uang saku. Mudah-mudahan bundamu akan berubah pikiran tentang kamu."
“Kamu yakin itu akan berhasil?” Laila ragu.
“Coba dulu, baru kasih komentar!”
Ya, memang tak ada salahnya mengikuti saran Isnul, pikir Laila. Lagipula saran Isnul cukup masuk akal. Mencoba mendapat kepercayaan Bunda dengan melakukan sesuatu. Bukan dengan janji-janji.
Laila pun mulai menyisihkan uang sakunya. Ia juga mulai belajar mencatat pengeluaran dan pemasukan uangnya sekecil apapun.Tanpa terasa dua minggu pun berlalu.
“Ah…” Laila menarik napas lega memandangi lembaran ribuan di kotak bekas coklat di atas meja belajarnya. “Coba dari dulu aku menabung,“Laila bergumam lirih.
“Tak perlu menyesal. Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan, sayang…” suara merdu berbisik di telinga Laila. Laila menoleh.
“Bunda…”
Bunda tersenyum sambil mengusap rambut Laila. “Bunda tahu kamu sedang berusaha berubah. Diam-diam Bunda selalu mengikuti apa yang kamu lakukan.”
“Terima kasih Bunda. Cuma…”Laila menggaruk-garuk kepalanya.
“Cuma apa!” Bunda mengerutkan dahinya.
“Bunda jangan bikin aku harus berhutang pada kondektur bis, dong! Gara-gara Bunda lupa memberiku ongkos.”
“Ha ha ha, itu tak akan terjadi lagi, sayang. Mulai besok kamu akan mendapat uang bulanan. Jadi, kalau kamu lupa bawa ongkos, bukan tanggung jawab Bunda lagi!” Bunda menjentik hidung Laila.
Laila memeluk bundanya erat-erat. Laila sangat bahagia. Bukan cuma karena ia mendapat uang bulanan, tapi kepercayaan Bunda pada dirinya. Laila ingin hari segera pagi. Ia sudah tak sabar ingin mengabarkan semuanya pada Isnul.



DAFTAR PUSTAKA

-          Fananie, Zainuddin. 2000. Telaah sastra, Surakarta : MUP. Handayani, Eliza Fitria. 2004. Area X. Bandung : Mizan.
-          Moeliono, Anton M. Kembara Bahasa 1989. Jakarta : PT. Gramedia
-          I. Jakarta : PT. Gramedia. Surono, 1981. Ikhtisar Seni Sastra. Solo :
-          Tiga Serangkai. Zaidan. Dkk. 1989. Kamus Istilah Sastra. Jakarta : Balai Pustaka
-          http://mcm-net.blogspot.com

ANALISIS UNSUR INTRINSIK Cerpen “Penyesalan Marni” Karya Humam S. Chudori


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam sebuah cerpen teradapat hal-hal menarik yang dapat di analisis dan diidentifikasi. Hal tersebut berkenaan dengan realitas sosial yang ada di masyarakat. Ini membuktikan bahwa cerpen mempresentasikan kehidupan masyarakat.
Upaya memahami cerpen dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur dalamnya (intrinsik). Berdasarkan pernyataan tersebut saya menysusun sebuah karya tulis yang berjudul “ ANALISIS UNSUR UNTRINSIK CERPEN PENYESALAN MARNI KARYA HUMAM C. CHUDORI.

B.     Identifkasi Masalah
Cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra yang brebentuk prosa (cerita) yang dibangun oleh unsur-unsur pembangun didalamnya, salah satunya unsur intrinsik yang meliputi: tema, alur (plot), tokoh dan penokohan, latar belakang (setting), sudut pandang, amanat dan gaya bahasa.

C.    Batasan Masalah
 Unsur intrinsik  yang terdapat dalam sebuah cerpen sangat luas ruang lingkupnya, karena itu saya hanya akan menganalisis dua unsur intrinsik pada cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori
Meliputi        :  Tokoh dan penokohan, amanat

D.    Rumusan Masalah
1.         Bagaimanakah penokohan pada tokoh utama cerpen “Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori?
2.         Bagaiamana amanat yang terkandung dalam cerpen “Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori?

E.     Tujuan Pembahasan
Tujuan Pembahasan yaitu mendeskripsikan:
1.      Tokoh dan penokohan dalam cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori.
2.      Amanat yang terkandung dalam cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori.

F.     Kajian Masalah
Menurut Nurgianto (2005;165) tokoh adalah pelaku cerita sedangkan penokohan adalah cara pengarang dalam menggambarkan Tokoh cerita.
Menurut Uti Darmawati Wijaya, Ratna Dewi, dan Budi Artati (20010;8) Amanat adalah pesan dalam cerita yang di sampaikan pada pembaca.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tokoh dan Penokohan cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori.
Cerpen yang berjudul “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori di dalamnya di dukung oleh beberapa tokoh, tokoh utama dalam cerpen tersebut adalah Marni, berikut ini dalah tokoh dan penokohannya.
Tokoh
Penokohan
Bukti Pendukung
Marni
Pemarah
“ jadi orang itu jangan penyakitan”, kata Marni tatkala suaminya pulang dari Rumah Sakit, setelah kesekian kalinya ia dirawat.
Sombong
Ketika masih bekerja, Marni acap kali berakata kepada Rita -- tetangga depan Rumahnya – kalau dirinya tidak bekerja, kebutuhan rumah tangganya pasti tak akan pernah bisa tercukupi.
Suka merendahkan orang
Marni masih merasa lebih hebat dari para tetangganya yang tidak bekerja. Ia memang sering melecehkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga.



B.     Amanat
Amanat adalah pesan yang terkandung dalam sebuah cerita amanat dalam cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori adalah:
Amanat
Bukti Pendukung
Janganlah menjadi seseorang yang suka merendahkan orang lain.
Ia memang sering melecehkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya tak ada tetangga yang mau dekat dengan Marni.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahw:
1.      Tokoh Utama pada cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori adalah Marni dengan Penokohan yang: Pemarah, Sombong, dan suka merendahkan orang lain.
2.      Amanat cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori adalah: janganlah menjadi seseorang yang suka merendahkan orang lain.

B.     Kritik dan Saran
Analisis unsur intrinsik cerpen “ Penyesalan Marni “ karya Humam S. Chudori ini mempunyai banyak sekali kekurangan, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sekalian, demi kesempurnaan analisis ini.






DAFTAR PUSTAKA

Chudori, S. Humam. 2008. Aktif dan kreatif berbahasa indonesia. Jakarta Pusat: Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Nurgianto. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada Universty Press.
Darmawati, Uti dkk. 2008. Detik – detik ujian Nasional Bahasa Indonesia. Klaten: PT. Macanan Jaya Cemerlang

 

Penyesalan Marni
Cerpen: Humam S. Chudori

Sejak di-pehaka, Himawan sering sekali dirawat di rumah sakit. Penyakit asma yang dideritanya sering kambuh. Padahal, sebelum kena pehaka, ia jarang dirawat di rumah sakit kendati tiap bulan mesti mengunjungi dokter. Tragisnya, setelah empat kali dirawat di rumah sakit, Marni mengalami nasib serupa dengan suaminya -- kena pehaka. Sejak itu neraca keuangan keluarga Himawan mulai goncang.
"Jadi orang itu jangan penyakitan," kata Marni, tatkala suaminya pulang dari rumah sakit, setelah kesekian kalinya ia dirawat. Himawan diam. Betapa tidak, baru dua langkah pasangan suami-istri itu masuk ke dalam rumah, Marni sudah melontarkan kalimat ketus. "Kalau sudah begini, apalagi yang harus dijual?" kata Marni lagi.
Himawan tak menyahut. Hatinya terasa sakit mendengar kalimat yang dilontarkan istrinya. Rasanya ia ingin mendaratkan tamparan ke muka perempuan itu jika tidak ingat tubuhnya sendiri masih lemah.
Sebetulnya ia ingin langsung ke kamar, tiduran. Namun, setelah mendengar kata-kata istrinya itu tubuhnya langsung lemas. Gemetar. Limbung. Matanya seperti berkunang-kunang. Kepalanya terasa nyut-nyutan. Ia kehilangan tenaga untuk melangkah ke kamar. Karena itu, ia langsung duduk di atas tikar. Di ruang tamu.
Rumah itu memang sudah lama tak punya kursi tamu lagi, sudah mereka dijual. Sebelumnya beberapa perabotan rumah lain -- televisi, kulkas, dan bupet -- juga sudah mereka jual.
Sejak tak ada meja kursi tamu, di ruangan yang tidak terlalu luas itu hanya ada selembar tikar plastik yang tak pernah digulung.
Watak asli Marni baru disadari Himawan setelah anak pertama mereka lahir. Semula sifat buruk istrinya dianggap Himawan sebagai bawaan jabang bayi, lantaran istrinya nyaris tidak mengalami kekosongan. Setelah dua bulan dinikahi Himawan. Sikap dan kelakuan Marni mulai berubah.
Ketika pertama kali berhenti haid, Himawan menganggap kelakuan perempuan itu berubah karena mengalami fase ngidam. Himawan menyadari orang yang sedang ngidam -- seperti yang sering didengarnya dari orang lain -- emosinya labil. Itulah sebabnya lelaki itu berusaha untuk tidak tersinggung. Dia sendiri sangat berharap secepatnya mempunyai keturunan, lantaran terlambat menikah.
Bukan sekali dua kali Himawan mendengar cerita tentang kelakuan orang ngidam yang berubah nyleneh. Menjadi manja, gampang cemberut, bahkan serba ingin menang sendiri. Meski pada umumnya orang ngidam cuma ingin makan yang serba pedas atau masam. Kebiasaan orang ngidam seringkali menjadi aneh, kolokan, bahkan tidak jarang membuat suaminya kesal.
Ketika Erna -- adik Himawan -- ngidam bukan hanya sekali menyuruh suaminya membelikan bakso di tengah malam. Widodo pun mengabulkan permintaan Erna. Ia terpaksa mencari makanan yang diminta 'jabang bayi'.
Namun, alangkah kesalnya lelaki itu setelah sampai di rumah. Erna hanya mencoba sesendok kuahnya. Dan, makanan yang diperoleh dengan susah payah itu tidak disentuh sama sekali. Celakanya jika permintaan Erna tidak dituruti, ia akan marah-marah kepada suaminya. Meskipun demikian, Widodo tak berani menolak permintaan 'sang jabang bayi'.
Memang tidak sedikit orang ngidam yang tidak berubah kelakuannya. Tidak ada perubahan perilaku atau kebiasaan, kecuali menjadi sering muntah karena perutnya terasa mual.
Andaikata tak pernah memikirkan masa depan anak, barangkali, Himawan sudah menceraikan istrinya. Ia sudah merasakan sendiri betapa tidak enaknya menjadi korban perceraian orangtua. Lantaran ia dan dua orang adiknya memang produk rumahtangga yang berantakan alias broken home.
Ketika masih bekerja, Marni acapkali berkata kepada Rita -- tetangga depan rumahnya -- kalau dirinya tidak bekerja, kebutuhan rumah tangganya pasti takkan pernah bisa tercukupi.
"Berapa sih gaji seorang sopir seperti suami saya?" kata Marni, tatkala mereka belum di-pehaka, mengeluh kepada Rita usai menceritakan penghasilannya.
"Sama saja, Mbak," kata Rita jika tetangga depan rumahnya sudah berkata demikian, "Suami saya juga sopir." "Kalau suami Dik Rita lain. Biar sopir tapi sopir kedutaan besar. Pasti gajinya besar. Karena itu, kamu tidak perlu bekerja lagi seperti saya."
Apabila Marni sudah mulai membicarakan penghasilan suaminya, Rita berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Waktu itu mereka -- baik Himawan maupun Marni -- masih aktif bekerja. Mereka masih punya penghasilan. Namun, setelah di-pehaka Marni tak berani lagi membicarakan gajinya. Ia tak pernah membanggakan penghasilannya.
Walaupun demikian, toh ternyata Marni masih merasa lebih hebat dari para tetangganya yang tidak bekerja. Ia memang sering melecehkan wanita yang hanya menjadi ibu rumah tangga. Itu sebabnya tak ada tetangga yang mau dekat dengan Marni, kecuali Rita.
Sejak di-pehaka, Marni tidak pernah melamar kerja lagi. Karena, ia sudah tak mungkin bekerja lagi. Pertama, karena usianya sudah di atas kepala empat. Kedua, pendidikannya pas-pasan. Hanya berijazah slta dan tidak punya ijazah lain. Ijazah dari kursus ketrampilan, misalnya. Dan, ketiga, pengalaman kerjanya tidak bisa digunakan sebagai referensi mencari pekerjaan lain. Sebab pekerjaannya hanya sebagai pemandu penonton bioskop. Ya, tugas Marni di tempat kerjanya hanyalah mengantar penonton ke kursi sesuai dengan nomor karcisnya. Sementara itu, sudah banyak bioskop yang tidak mampu bertahan. Menghentikan usahanya. Tidak beroperasi. Gulung tikar.
Untungnya, Hendy, ayah Himawan, meninggalkan warisan kepada anak-anknya, termasuk Himawan. Sebuah rumah yang kini dikontrakkan. Dari hasil kontrakan itulah keluarga Himawan berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari selama belum mendapatkan pekerjaan lagi, meski tidak cukup juga.
"Kalau sudah begini apalagi yang masih bisa dijual, Mas?" Marni mengulang pertanyaan sebelumnya, setelah lama Himawan tak melontarkan sepatah kata pun.
Himawan masih duduk mematung. Mengatur napasnya yang tak teratur. "Orang ditanya istri kok diam saja."
"Rumah warisan bapak masih ada," kata Himawan, pelan. Nyaris tak terdengar. Setelah ia berhasil menepis rasa galau yang memenuhi benaknya.
"Sudah gila kamu, Mas?"
"Tadi kamu tanya barang apalagi yang masih bisa dijual. Rumah peninggalan bapak masih laku dijual. Kalau laku dijual masih cukup untuk biaya hidup kita. Paling tidak dalam waktu beberapa tahun ke depan," jawab Himawan lemah. "Jika nanti kurang ya rumah ini yang kita jual." Marni diam.

"Kalau bukan rumah itu apalagi, coba pikir? Jual perabotan? Perabotan apa yang masih bisa di jual? Tikar atau bantal? Atau jual tenaga? Nyatanya kita juga sudah tidak bisa bekerja? Bukankah ini artinya tenaga kita juga sudah tak laku?" kali ini Himawan sudah tidak kuasa untuk menahan kekesalannya. Suaranya gemetar.
"Mas!" "Atau kamu mau jual diri? Jual diri kamu juga sudah tidak laku. Kamu su... sudah tua...." Himawan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Nafasnya sesak. Dia terjatuh. Tidak kuat duduk. Tubuhnya mendadak kejang-kejang. Mulutnya terkatup rapat. Nafasnya berhenti.
Dengan terbata-bata Marni menceritakan kematian suaminya kepada Rita, tetangga depan rumahnya. Ada nada sesal, tatkala ia menceritakan peristiwa yang telah menyebabkan Himawan menghembuskan napas terakhirnya.
"Andaikata akan begini jadinya...." Marni tak melanjutkan kalimatnya.
"Ya, sabar saja, Mbak. Barangkali sudah menjadi suratan takdir."
"Masalahnya bukan itu, Rita," Marni memotong kalimat Rita, "Almarhum masih meninggalkan utang sama saudara-saudara saya. Ya, selama ini biaya rumah sakit sudah tidak ditanggung kantor. Lha wong Mas Himawan sudah tidak kerja."
Rita masih diam. "Untungnya, dulu saya juga kerja. Kalau tidak, mungkin utang almarhum bisa dua kali lipat lebih. Selama ini saya yang menanggung biaya keluarga. Gaji suami selama ini sudah habis buat biaya berobat. Di kantornya, Mas Himawan hanya mendapat ganti sebagian dari biaya yang dikeluarkan. Itu pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya yang harus kami tanggung selama ini. Sebab, tiap bulan Mas Himawan, tidak bisa tidak, harus tetap berobat. Terlambat berobat, ia harus dirawat," lanjutnya berapi-api. Rita tetap diam.
"Coba kalau saya tidak pernah bekerja, apa tidak...." "Maaf," Rita memotong kalimat yang belum usai dilontarkan Marni, "Perut saya sakit. Ingin buang air."
Dengan tergopoh-gopoh Rita pulang. Ia tidak ingin mendengar kalimat Marni selanjutnya. Kedatangan Rita ke rumah Marni, malam itu, semula hendak menghibur sang tetangga yang belum genap seminggu ditinggal suaminya. Namun, setelah mendengar ceritanya Rita justru merasa muak. Bahkan kesal.
Yang disesalkan Mbak Marni ternyata bukan karena kematian suaminya, tapi karena almarhum masih meninggalkan utang, pikir Rita.***

ANALISIS UNSUR INTRINSIK Cerpen Shalawat Badar Karya Ahmad Tohari


BAB I
PENDAHULUAN

a.      Latar Belakang Masalah
Cerpen yang merupakan bagian dari karya sastra yang berbentuk prosa Fiksi, secara umum hal yang dibangun dalam cerpen dengan kehidupan nyata, seperti watak tokoh, amanat serta sejumlah permasalahan yang dihadapi. Tokoh cerpen merupakan kehidupan nyata, dengan mengapresiasi cerpen, kita akan mendapat banyak pengalaman hidup, termasuk nilai positif didalamnya.
Dalam Cerpen yang saya bahas ini tujuannya supaya semua orang itu banyak berbuat kebaikan, dan jadilah orang yang berhati mulia, dan perbanyaklah membaca sholawat kalau ingin selamat dari bencana/musibah.

b.      Identifkasi Masalah
Cerpen merupakan bagian dari karya sastra yang berbentuk prosa fiksi, secara umum dibangun oleh 2 unsur yaitu : unsur intrinsik dan Unsur ekstrinsik.
Unsur Intrinsik cerpen sangat luas ruang lingkupnya
Unsur Intrinsik meliputi : tokoh, penokohan, latar, tema, amanat, alur, dan sudut pandang
Unsur ekstrinsik meliputi : nilai sosial politik & biografi pengarang.
1.      Tokoh
Yaitu Pemain yang ada pada cerita atau pelaku dalam suatu cerita
2.      Penokohan
Yaitu Watak-watak dari setiap tokoh yang biasanya kita dapat mengamati dari karakter setiap tokoh dengan memperhatikan gaya bahasa maupun gerak-geriknya.
3.      Latar
Yaitu Lokasi dimana para pelaku cerita terlibat dalam sebuah kejadian. Latar (setting) sangat berguna karena sebagai penggerak cerita.
4.      Tema
Yaitu Ide cerita yang dimana tema menyangkut keseluruhan isi cerita dan dapat diperoleh dengan membaca keseluruhan dari cerita.
5.      Alur
Yaitu Bagian rangkaian perjalanan cerita yang tak tampak, alur tersembunyi dibalik jalan cerita, Jalan cerita dikuatkan dengan adanya alur.
6.      Amanat
Yaitu Bagian Akhir yang merupakan pesan dari cerita yang dibaca.
7.      Sudut pandang
Cara paling dipilih oleh pengarang dalam menentukan gaya dan Corak cerita.
8.      Gaya Bahasa
Yaitu Corak Pemakaian/Penggunaan bahasa.
c.       Batasan Masalah
Unsur Intrinsik cerpen begitu luas ruang lingkupnya. Karena terbatasnya waktu, maka saya membatasi makalah ini. Dalam hal ini saya hanya akan menganalisis 3 unsur intrinsik cerpen. Yang meliputi tokoh, setting dan amanat
·      Tokoh      : Pemain yang ada dalam cerita/ pelaku sebuah cerita.
·      Setting     :  Lokasi dimana para pelaku cerita terlibat dalam sebuah kejadian. Latar sangat berguna karena sebagai penggerak cerita.
·      Amanat    :  Bagian akhir yang merupakan pesan dari cerita yang dibaca / pesan yang disampaikan pengarang

d.      Rumus Masalah
Berdasarkan latar belakang cerpen, rumusan masalah dari cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari adalah sebagai berikut :
·         Bagaimana penggambaran watak tokoh dari masing-masing tokoh dalam cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari ?
·         Dimana latar/alur dari cerita Sholawat Badar karya Ahmad Tohari ?
·         Apa amanat yang terkandung dari cerita Sholawat Badar karya Ahmad Tohari ?

e.       Tujuan Masalah
Tujuan masalah dari cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari adalah untuk mendiskripsikan tentang :
·         Tokoh dan Penokohan pada cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari
Cara pengarang menggambarkan watak tokoh baik keadaan lahir maupun batinnya.
·         Latar Menjelaskan dimana latar/ setting dalam cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari
Salah satu bagian cerpen yang dianggap penting sebagai penggerak cerita/ keterangan tentang tempat, waktu dan sosial
·         Amanat, menjelaskan bagaimana amanat yang terkandung dalam cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari
Bagian Akhir yang merupakan pesan dari cerita yang dibaca/ pesan yang disampaikan pengarang

f.       Kajian Masalah
Kajian masalah dari cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari adalah untuk mendiskripsikan tentang :
A.    Pengertian penokohan menurut Albertime Minderop
Penokohan     : Karakteristik yang berarti metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi
B.     Pengertian setting/ Menu menurut Kenney
Setting           : segala keterangan mengenai waktu, ruang, hari dan suasana dalam peristiwa
C.     Pengertian Amanat menurut Kenney
Amanat          : Suatu pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca.


BAB II
PEMBAHASAN

a.      Penokohan / Tokoh Utama cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari
Tokoh
Karakter
Bukti Pendukung
Pengemis

Penyabar

Dia Tampaknya rela diperlakukan sebagai apa saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat
Pedagang Asongan

Emosional


Mereka menyodor-nyodorkan dagangan sampai dekat sekali ke mata para penumpang, mereka mengeluh ketika tak mendapati tak seorang pun mau berbelanja. Seorang di antara mereka mengutuk dengan mengatakan para penumpang adalah manusia-manusia kikir
Sopir


Pemarah


Sopir sudah bosan menunggu tambahan penumpang yang ternyata tak kunjung datang, sopir yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan.
Kondektur
Keras


Kondektur melompat masuk dan berteriak kepada sopir. Kondektur enggan melayani bus yang tidak penuh, mereka bertengkar melalui kata-kata yang tidak sedap di dengar. Kondektur diam, ia kehabisan kata-kata, dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya bulat-bulat

b.      Latar/ Setting cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari
Latar
Bukti Pendukung
Tempat
Waktu
Suasana
Di dalam Bus


Siang



Panas



Bus masuk terminal cirebon Ketika matahari hampir sampai pucuk langit, terik matahari di tambah dengan panasnya mesin diesel tua memanggang bus itu bersama isinya.
Sawah
Sore
Panik
Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku terluka parah. Aku terjaga dan didepanku ada malapetaka, bus yang ku tumpangi sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak karuan.

c.       Amanat dari cerpen Sholawat Badar karya Ahmad  Tohari
Hendaknya kita harus banyak berbuat baik dan kita harus banyak-banyak membaca sholawat, agar kita dapat terhindar dari bahaya malapetaka/bencana, janganlah menjadi orang yang suka mengeluh dan jangan menjadi orang yang memikirkan diri sendiri/egoisme.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
-          Tokoh Utama pada cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari
Tokoh Aku dan Pengemis, mempunyai sifat yang suka memberi, yang dibuktikan ketika Pengemis menghampirinya, tokoh utama (Aku) itu langsung terketuk hatinya dengan segera mengambil beberapa Rupiah yang ada disakunya.
-          Latar yang terdapat dalam cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari adalah Latar Waktu dan Tempat.
Latar Waktunya terjadi pada puluhan tahun yang lalu dan latar tempatnya terletak di desa Cirebon di dalam sebuah bus yang pada akhirnya tokoh aku dan Pengemis bertemu.
-          Amanat yang terkandung dalam cerpen Sholawat Badar karya Ahmad Tohari  ada banyak, diantaranya :
Janganlah menjadi orang yang suka/gampang mengeluh, janganlah menjadi orang yang suka memikirkan diri sendiri/egoisme dan kita harus banyak-banyak berbuat baik dan membaca Sholawat agar kita dapat terhindar dari bahaya malapetaka bencana.

B.     Kritik dan Saran
Saya berharap semoga Analisis ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan saya menyadari analisis ini masih ada kekurangan dan masih perlu ditingkatkan, oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat saya harapkan.


DAFTAR PUSTAKA

·         Manroe, Putri.Indra.2004.kamus bahasa indonesia, surabaya = Gresinda Press
·         Tohari, Ahmad.2000,senyum karyamin.Jakarta=PT.Gramedia Pustaka Utama.
·         http://mcm-net.blogspot.com

Informasi Terbaru

« »
« »
« »