Selasa, 05 Juni 2012

ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN “PERISTIWA PAGI HARI” KARYA “A.S LAKSANA”



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menolong hambanya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan – Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini kami susun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh perpustakaan sekolah terhadap mutu pendidikan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah kami susun dengan berbagai rintangan. Baik yang datang dari luar maupun yang datang dari dalam. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah SWT akhirnya makala ini dapat terselesaikan dengan baik.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada guru / dosen pembingbing yang banyak membantu, mendukung serta memotivasi kmi agar dapat menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan kami mohon untuk kritik dan saran dari pembaca. Terima kasih.



DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Identifikasi Masalah
C.     Batasan Masalah
D.    Rumusan Masalah
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.    Unsur-unsur Intrinsik Cerpen
BAB III PEMBAHASAN
A.    Tema Cerita
B.     Alur Cerita
C.     Penokohan
D.    Latar/Setting
E.     Sudut pandang
F.      Amanat
G.    Gaya Bahasa
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran-saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Cerpen adalah salah satu jenis karya sastra berbentuk prosa dengan kisahan yang pendek dengan kesan tunggal dan terpusat pada satu tokoh dalam suatu situasi. Cerpen terbangun dari dua unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik cerpen meliputi, tema, amanat, latar (setting). Sudut pandang (point of view), tokoh dan penokohan, diksi / pilihan kata / gaya bahasa, dsb. Sedangkan unsur ekstrinsik cerpen meliputi nilai sosial, politik, biografi pengarang dsb.
Banyak hal yang terkandung dalam cerpen, di dalam cerpen terdapat watak tokoh cerpen, amanat, serta sejumlah permasalahan  yang dihadapi tokoh cerpen merupakan potret kehidupan nyata disajikan oleh pengarang melalui cerita. Itu berarti, dengan mengapresiasi cerpen, kita akan mendapat banyak pengalaman hidup, termasuk nilai positif watak di dalamnya.
Mengapresiasikan cerpern ada banyak sekali macamnya, salah satunya yaitu dengan cara menganalisis unsur pembangunnya, baik itu unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik. Berdasarkan uraian diatas, kami akan menyusun makalah yang berjudul “ Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Peristiwa Pagi Hari “.

B.     Identifikasi Masalah
Unsur intrinsik cerpen sangat luas ruang lingkupnya, unsru intrinsik cerpen meliputi : tema, tokoh, dan penokohan, amanat, sudut pandang ( point of view ), latar (setting), alur (plot), diksi  / pilihan kata (termasuk gaya bahasa).

C.    Batasan Masalah
Unsur intrinsik cerpen begitu ruang lingkupnya. Karena terbatasnya waktu dan biaya, maka kami membatasi makalah ini. Dalam hal ini kami hanya akan manganalisis lima unrus intrinsik cerpen yang meliputi tokoh dan penokohan, majas dan amanat.

D.    Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini dirumuskan dalam rumusn masalah berikut :
1.      Bagaimana tokoh dan penokohan tokoh utama cerpen, “ Peristiwa Pagi Hari “
2.      Bagaimana pengunaan gaya bahasa perbandingan dalam cerpen “ Peristiwa Pagi Hari “.
3.      Apa amanat yang terkandung dalam cerpen “ Peristiwa Pagi Hari “


BAB II
KAJIAN RUSTAKA

  A.    Unsur-unsur lntrinsik Cerpen
Menurut Nurgiyantoro dalam bukunya Pengkajian Prosa Fiksi unsur-unsur intrinsik ialah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpaijika orang membaca karya sastra. Unsur-unsur intrinsik tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Tema cerita
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
Tema disaring dari motif- motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasitertentu. Tema dalam banyak hal bersifat "mengikat" kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasiyang umum, lebih luas dan abstrak.

2. Alur Cerita
Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada pembacanya. Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab'akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.
Lebih lanjut Stanton mengemukakan bahwa plot ialah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Plot ialah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa alur cerila ialah jalinan peristiwa yang melatari sebuah prosa fiksi yang dihubungkan secara sebab-akibat.

3. Penokohan
Dalam pembicaraan sebuah cerita pendek sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama.
Tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirlran memilki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diespresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Dengan demikian, istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau penratakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.

4. Latar
Sebuah cerita pada hakikatnya ialah peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Menurut Nadjid (2003:25) latar ialah penempatan wahu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi.
Menurut Nurgiyantoro (2004:227-233) unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut.
a. Latar Tempat
Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat- tempat dengan nama tertentu serta inisialtertentu.
b. LatarWaktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah "kapan" tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu
c. Latar Sosial
Latar sosial mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosialmasyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

5. Sudut Pandang
Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksidisalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk membedakan sudut pandang. Pertanyaan tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam percona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan "aku", atau sepertitak seorang pun)?
2. Dari posisi mana cerita itu dikisahkan (atas, tepi, pusat, depan atau berganti)
3. Saluran informagi apa yang dipergunakan narator untuk menyampaikan ceritanya kepada pembaca (kata-kata, pikim, atau persepsi pengarang, kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, atau persepsi tokoh)?
4. Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya (dekat, jauh, atau berganti-ganti)?

Selain itu pembedaan sudut pandang juga dilihat dari bagaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca lebih bersifat penceritaan, telling, atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik. Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukakan berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang yaitu bentuk persona tokoh cerita persona ketiga dan persona pertama.
a. Sudut pandang persona ketiga : "Dian
Pengisahan cerita yang menpergunakan sudut pandang persona ketiga gaya "Dia", narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak. Sudut pandang "dia" dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak, pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh "dia", jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, mempunyai keterbatasan "pengertian" terhadap tokoh'dia" yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja.
1) "Dia" mahatahu
Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut "diao, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh "dia" tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. la bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh "dia" yang satu ke "dia' yang lain, menceritakan atau sebaliknya "menyembunyikan" ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.
2) "Dia" terbatas, “Dia" sebagai pengamat
Dalam sudut pandang "dia" terbatas, seperti halnya dalam “dia" mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh “dia", namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.
b. Sudut Pandang Persona Pertama : "Aku"
Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama (first person point of view), 'aku". Jadi: gaya "aku", narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. la adalah si "aku'tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar, dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si "aku" tersebut.
1) "Aku" tokoh utama
Dalam sudut pandang teknik ini, si "aku" mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam dirisendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si "aku"menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si “aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si 'aku" mqnjqditokqh utama (first person central).
2) "Aku" tokoh tambahan
Dalam sudut pandang ini, tokoh "aku" munculbukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagaitokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh "aku" hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian'dibiarkan" untuk rnengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si “aku"tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian si "aku" hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si "aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.

6. Gaya Bahaqa dan Nada
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. ltulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Nada pada karya sastra merupakan ekspresi jiwa.


BAB III
PEMBAHASAN

A.    Tema Cerita
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur sistematis dan yang menyangkut persamaan- persamaan atau perbedaan – perbedaan.
Tema disaring dari motif-motif  yang terdapt dalam karya bersangkutan yang menetukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik dan situasi tertentu.
Cerpen ini menceritakan tentang percakapan atau persenggamaan antara tuan rumah dan tamunya yang terkandung dalam paragraf ke – 1 dan 2.
“ Sepuluh tahun lalu, disebuah ruang tamu, mereka bercakap dalam nada rendah. Tak ada yang lain di rumah itu kecuali mereka berdua. Tak ada orang tua sehingga sesungguhya tak perlu mereka merendahkan nada bicara, namun malam itu mereka tetap bicara dalam nada rendah, sebab memang ada tema-tema percakapan tertentu yang selalu harus disampaikan dengan nada rendah kendaki tidak ada orang lain.”
“ Mereka sedang bercakap tentang persenggamaan ketika hujan tiba-tiba deras malam itu dan angin yang bertiup kencang mencampakkan ke atap rumah beberapa butir mangga yang tangkainya membusuk. Si tuan rumah memaki ketika didengarnya suara hemparan keras di genteng. “

B.     Alur Cerita
Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjain berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Ebuah rangkaian peristiwa dapata terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat.
Alur dalam cerpen ini menggunakan alur maju, karena cerpen ini menceritakan suatu gambaran masa yang akan datang. Arah alur cerpen dibuktikan pada penggalan sinopsis berikut.
“ Alit membayangka suatu yang lain ketika bersenggama dengan tangannya, ia melihat seorang menggerang, menjerit dan merengek di hadapanmalaikat : makhluk putih bersayap, seperti hasl persilangan antara sosok lelaki tua dan seekor unggas. Orang yang di datangi malaika itu terus mengiba-iba dengan paras muka yang sudah biru: namun makhluk bersayap tak bisa di bengkokkan oleh rengek dan warna biru di paras muka orang itu. Pelan sekali makhluk serupa unggas itu beringsut, membuat kehadirannya semakin meringis, makin dekat, makin dekat dan muka orang itu makin biru.
Mungkin dengan gambaran seperti itu di tempurung kepalanya, onani yang ia lakukan bisa tahan lebih lama. Tiga kali ia membanyangkan kejadian yang sama, dan pada onani selanjutnya ia membuat sedikit revisi pada tampilan makhluk bersayap yang mendatangi si muka biru. Makhluk seperti unggas itu kini ia banyangkan berjubah loreng dan mukanya berlumur warna peparengan. Atlit berhadap dengan gambaran itu, si unggas akan tampak lebih menyeramkan. Ia tidak lagi beringsut pelan-pelan, namun langkahnya menghentak-hentakkan larsa pada lantai.
Orang yang ia banyangkan merengek-rengek di depan makhluk bersayap itu tidak lain adalah ayahnya. Jadi ketika tangnnya bekerja, otaknyapun berkerja membanyangkan menyongsong kematian ayahnya. Sebab ia berfikir bahwa ayahnya memang pantas di datangi makhluk seperti itu. Dalam tujuh onani ia membanyangkan ayahnya mengerang menghadapi malaikat warna loreng. Dan onani pada selanjutnya ia sampat ragu-ragu apakah ayahnya pantas di gambarkan seperti itu atau tidak.
Mungkin tidak pantas.
Mungkin lebih pantas jika orang itu ia bayangkan mati sendiri, seperti daun-daun yang rontok, setelah di rambati warna kuning, lalu disapu oleh pemilik pekarangan, di buang ke tempat sampah, dan oleh tukang sampah diangkut dan dibuang lagi entah kemana. Atau kalau tukang sampah tidak datang beberapa hari, daun itu akan tercampak diantara sampah-sampah lain yang membusuk. Mungkin lebih pantas ia bayangkan ayahnya mati sendiri tanpa ada yang menjemput sehingga nyawanya tersesat jauh sekali dan tidak pernah sampai ke tempat yang seharusnya di tuju oleh orang-orang mati.

C.    Tokoh/ penokohan
v  Alit berwatak
Ø  Sellau ingin tahu “ bisa dua kali empat puluh lima menit ?” alit mengulang lagi pertanyaannya.
Ø  Tangkas, “jadi ketika tangannya bekerja, otakpun bekerja membanyangkan kematian menyongsong kematian ayahnya.”
Ø  Paling hebat, “konon alit pernah mengatakan bahwa orang tua memang sering tidak berguna.”
Ø  Pembohong, “ia malu karena apa yang ingin disembunyikannya ternyata bisa dilihat oleh ayahnya.”
v  Ayahnya alit berwatak
Ø  Tak peduli, “ia tidak pernah setuju kata-kata siapapun, termasuk kata-kata ibu ku.”
Ø  Lemah, “ia mengerang, menjerit dan merengek di hadapan malaikat.”
Ø  Selalu tahu, “namun toh ayahnya tau hal-hal yang tertutup dan ingin ia sembunyikan.”
Ø  Perhatian, “baiklah aku akan berangkat kerja, ku harap kau baik-baik saja hari ini.”
Ø  Lembut, “ayahnya datangkepadanya seperti pagi-pagi sebelumnya, mengusap kepalanya.”

D.    Latar / setting
v  Tempat
Ø  Ruang tamu
“disebuah ruang tamu mereka bercakap dengan nada rendah.”
Ø  Rumah
“tak ada orang lain di rumah itu kecuali mereka berdua.”
Ø  Di genteng
“si tuan rumah memaki ketika didengarnya suara hempasan keras di gentengnya.”
Ø  Dapur
“si tuan rumah segera melesat ke dapur.”
Ø  Semarang
“tapi ia adalah kawan sekelas alit disebuah SMA di Semarang.”
Ø  Depan Rumah
“ketika seorang perempuan melintas di depan rumah.”
Ø  Tembok-tembok jalanan
“dan di luar ia menggambar perangkat itu di tembok-tembok jalanan.”
Ø  Kelas
“lalu guru mengeluarkannya dari kelas.”
Ø  Luar Kota
“ayah perempuan itu, ia tahu, beberapa hari lalu berangkat ke luar kota dan baru akan pulang beberapa hari lagi.”
Ø  Di depan pagar rumah
“lalu bercakap-cakap dengan seseorang di depan pagar rumahku.”
v  Waktu
Ø  Sepuluh tahun lalu
“sepuluh tahun lalu, disebuah ruang tamu.”
Ø  ketika hujan
“mereka sednag bercakap tentang persenggaman ketika hujan tiba-tiba deras malam itu.”
Ø  3 tahun
“tiga tahun lebih lama dari anak-anak lain yang tidak pernah tinggal kelas.”
Ø  4 tahun
“empat tahun untuk menyelesaikan SMP yang seharusnya bisa di tempuh tiga tahun.”
Ø  Malam itu
“dan ibunya, ia tak tahu, pergi kemana, juga tak ada di rumah malam itu.”
Ø  9 tahun
“ia memerlukan waktu sembilan tahun untuk menyelesaikan sekolah dasar.”
Ø  Beberapa hari
“atau kalau tukang sampah tidak datang beberapa hari.”
Ø  Setiap pagi
“terutama ayahnya sebagai sesama lelaki, datang kepadanya setiap pagi.”
Ø  Siang nanti dan jam pertama
“ia tidak menipu ayahnya bahwa siang nanti, begitu kelas dimulai guru agama, dan masuk pada jam pertama, akan memberikan ulangan.”
Ø  Esok pagi
“esok paginya, sebelum berangkat kerja, ayahnya datang kepadanya seperti pagi-pagi sebelumnya.”

E.     Sudut Pandang
Cerpen ini mempunyai sudut pandang bahwa “orang pertama pelaku utama.”

F.     Amanat
v  Agar selalu terbuka
“Ia malu karena apa yang ingin disembunyikannya ternyata bisa dilihat oleh ayahnya.”
v  Jangan pernah menganggap remeh seseorang
“alit pernah mengatakan bahwa orang tua memang sering tidak berguna.”
v  Selalu memperhatikan
“baiklah, aku akan berangkat kerja, ku harap baik-baik saja hahri ini.”

A.    Gaya Bahasa
Saya bahasa pada cerpen inimenggunakan majas, majas yang digunakan dalam cerpen ini :
v  Majas HIPERBOLA terdapat pada kalimat :
Ø  “orang yang didatangi malaikat itu terus mengiba-iba dengan paras muka yang sudaj biru.”
Ø  “dalam tujuh onani ia membayangkan ayahnya mengerang menghadapi malaikat warna LORENG.”
Ø  “ia melihat perempuan itu tiba-tiba meliuk-liukkan tubuhnya seperti lidah api.”
v  Majas PERSONIFIKASI terdapat pada kalimat :
Ø  “ia bisa mendengar suara tertawa kecil yang MEMBELAI DAUN dan membuat jantunya tiba-tiba MELIAR.”
Ø  “ia tidak lagi beringsut pelan-pelan, namun melangkah menghentak-hentakkan LARSA pada lantai.

BAB IV
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.    Tokoh Utama adalah Alit yang mempunyai penokohan selalu ingin tahu, tangkas, paling hebat dan pembohong.
2.    Majas Yang digunakan adalah majas hiperbola dan majas personifikasi.
3.    Amanat yang terkandung dalam cerpen adalah kita harus lebih terbuka kepada orang-orang terdekat terutama terhadap orang tua tentang masalah-masalah yang kita hadapi dan jangan pernah kita menganggap remeh orang lain karena kita hidup membutuhkan orang lain, kita tidak bisa hidup sendiri tenpa orang lain.

B.  Saran-saran
Kami sarankan kepada pambaca agar :
1.    Meningkatkan budaya membaca, mengoperasikan cerpen, maupun novel yang mengandung hiburan dan sosial tinggi.
2.    Pustakawan SMK Negeri 1 Baureno untuk lebih melengkapi buku-buku sastra, sehingga di harapkan dapat kreatifitas siswa dalam membaca.


DAFTAR PUSTAKA

Laksana, AS.2006.Peristiwa Pagi Hari. Jakarta : Bidadari yang mengembara


0 komentar:

Poskan Komentar

Informasi Terbaru

« »
« »
« »